Selasa, 11 Oktober 2011

Cara Mendidik Anak Menurut Islam

Cara Islam Adalah Cara Alami Dalam Mendidik Buah Hati

Segala puji bagi Allah ta’ala yang senantiasa melimpahkan penjagaan terbaik-Nya kepada kita, membimbing kita dalam menunaikan amanah-amanah sepanjang waktu, selalu mencurahkan kasih sayang setiap detik nan terlewati.

Buah hati yang merupakan permata dunia selalu dirindukan oleh semua orang tua di dunia. Bahkan di Eropa tatkala para wanitanya mengalami ketakutan melahirkan atau tidak ingin hamil serta melahirkan, tetaplah mereka merindukan buah hati, lantas jalan ‘pintas’ diambil, yaitu mengadopsi, yang mana anak yang diadopsi benar-benar secara sah (di mata hukum negeri tersebut) merupakan anak ‘hak milik’ keluarga yang mengadopsinya, tak boleh diganggu gugat oleh orang tua kandung si anak sampai kapan pun. Meskipun di mata Allah SWT, hal itu tidak sah, yah karena sifat ‘mau enaknya doang’ adalah sifat kebanyakan manusia, maka budaya adopsi masih terus terjadi.

Padahal anak-anak yang ‘merasa dimiliki’ tersebut, biasanya diletakkan di tempat penitipan bayi jika kedua orang tua bekerja. Sedari kanak-kanak, diarahkan untuk memiliki beragam atraksi dan ragam keahlian yang gunanya untuk ‘membanggakan orang tua’.

Dalam momen “Friday Nasiha”, brother Abdul Wahid Hamid mengingatkan kaum ibu sholihat agar tidak terwarnai budaya ‘trend-trend-an’ ketika mendidik anak. Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah menjadi teladan sepanjang zaman, termasuk cara bersikap yang dicontohkan beliau dalam mendidik anak-anak. Cara islam merupakan cara alami, dan tetap yang terbaik.

Dalam tarbiyyah anak-anak, “Duhai ibu dan bapak, kita harus ingat bahwa anak-anak sering belajar dari contoh. Perilaku yang tepat dan contoh dari orang tua sangat penting dalam membesarkan anak-anak”. Orang tua yang mengharapkan anak-anak mereka untuk berdisiplin dan bekerja keras, yang harus terlebih dahulu disiplin & bekerja keras adalah sang orang tua. Orang tua yang mengharapkan anak-anak mereka untuk jujur, maka kita sebagai orang tua berupaya menerapkan kejujuran diri dan memperhatikan pengaruh pertemanan yang terbiasa jujur.

Dulu saya pernah mencetuskan omongan, “Saya ingin anakku ini cerdas dan nantinya khatam al-qur’an…” Lantas adik juniorku masa kuliah pun mengingatkan, “Naaah, Ummi… Kalau mau anaknya khatam qur’an, ayah ibunya juga khatam qur’an duluan donk…hehehehe”, Subhanalloh, benar juga, alangkah egoisnya diri ini kalau mau ‘nitipin anak’ ke pesantren demi khatam qur’an, tapi ayah ibunya masih punya hafalan qur’an yang itu-itu saja. Astaghfirulloh… 

Juga perlu diingat bahwa pengobatan yang diberikan kepada anak-anak di tahun-tahun awal kehidupan mereka dapat memiliki efek luas pada keadaan mental dan emosional di kemudian hari.

Tradisi suntikan meningkatkan daya tahan tubuh tidak dicontohkan oleh nabi kita, beliau rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam melakukan cara alami dengan tahnik kurma, orang tua pun selanjutnya menjadi ‘tim solid’ ketika masa awal kehidupan anak untuk ‘lulus ASI’, tak mudah menata hari dengan beragam amanah lainnya, hingga sistem pencernaan ananda menjadi lebih kuat dan stabil. Namun pasti kebahagiaan mengaliri jiwa, menjadi orang tua yang dapat mendekap anak-anak dalam keseharian, memetik senyum kala lelah menerpa.

Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam pernah berwasiat agar etika orang tua teladan yang perlu diperhatikan adalah “jadilah dermawan, baik dan mulia di mata anak-anak, serta berprilaku yang indah”, sebab kebiasaan baik tersebut pasti dicontoh sang anak.

Berbahagialah menjadi orang tua, dan bahagiakan anak-anak. Mereka ceria dan bahagia, kemudian tumbuh kembang mereka dihiasi dengan suka cita, tentu hal ini lebih baik dibandingkan dengan pukulan dan terror ketakutan semisal hukuman fisik yang berlebihan.

Seorang Ibu di negeri tetangga pernah menampar anaknya di depan guru sekolah, Ibu itu mencak-mencak, ‘menghakimi kebodohan’ sang anak karena memperoleh nilai merah di raport akademisnya. Kata-katanya kotor, emosi tak terkontrol.

Sungguh sedih melihat si anak menangis, padahal selain mempermalukan sang anak, si Ibu tak menyadari, “Kemanakah engkau saat waktu belajar bagi sang anak, pernahkah engkau mendampinginya mengerjakan Pe-Er dan tugas sekolah lainnya, Bunda?” Ibu tersebut berpikir bahwa dia sudah ‘membayar guru, les yang bermacam-macam, dll’ untuk pendidikan anak, maka dia maunya “hasil raport tidak merah”, dan hasil raport itulah yang akan membuatnya bangga pada si anak.

Padahal ‘raport akhirat nanti’ jauh lebih penting. Kita harus jujur mengucapkan kata maaf jika pernah berbuat salah pada ananda, sebagaimana kita menginginkan sikap benar dan jujur menghiasi hidup mereka. Kita tunjukkan prilaku lemah lembut, sopan, saling tolong antar sesama dan pengembangan sikap kebiasaan tersebut pada anak-anak merupakan prestasi besar nan amat mahal.

Kebersihan dan rapi pun telah diajarkan dalam tata cara mendirikan sholat bagi kita, anak-anak yang khidmat shalatnya ternyata bisa berpengaruh dalam khidmat memperhatikan pelajaran dalam kelasnya. Subhanalloh, kaum non-muslim pun di Krakow ini ‘punya tradisi’ berdo’a terlebih dahulu sebelum tahun pelajaran sekolah dimulai, juga sebelum pelajaran harian dimulai, (mereka menyadari bahwa khidmatnya berdo’a akan tetap terbawa fokus perhatian terhadap pelajaran di kelas) dan selalu sulungku tidak mengikuti kelas berdo’a tersebut, Alhamdulillah ia telah memahami ‘perbedaan dirinya’ sebagai satu-satunya muslim di sekolah.

Dan ternyata sulungku itu sering sholat di ruang bermain sekolah, dan beberapa teman bertanya tentang ‘aktivitas apakah’ yang barusan dilakukannya, koq seperti berolah raga(sampai ada teman yang mengikuti gerakan sholat di belakangnya), ia jelaskan berdasarkan pengetahuannya sendiri bahwa ‘ini sholat, karena aku muslim’. Yah, kita do’akan saja semoga anak-anak tersebut memperoleh cahaya Islam suatu hari nanti, aamiin.

Anak-anak muslim mengembangkan adab dan etika islam dengan meniru orang tua dan gurunya: kapan dan bagaimana untuk saling menyapa, mendengarkan ragam suara alam, observasi, membaca, menuliskan isi hati, membersihkan diri usai urusan toilet, kapan saatnya diam dan memperhatikan lawan berbicara, serta kapan saatnya bersemangat bermain, dll, sadar atau tidak, melihat tindak tanduk anak-anak sering kita cetuskan melalui kalimat, “ih, mirip ayahnya…” atau “nah, kalau lagi begitu, mirip ibunya…” Tak masalah ‘seperti ayah atau ibu’, yang bermasalah adalah jika Ayah atau Ibu berprilaku tidak ‘seperti’ yang dicontohkan dalam Al-Qur’an.

Disarankan bahwa anak-anak akan diajarkan sedari usia dini untuk membaca Al Qur'an, malu-lah kita jika sebagai orang tua malah tak bisa membaca Al-Qur’an. Pada usia dini, mereka memiliki kapasitas untuk menghafal dan secara umum banyak anak dan pemuda menghafal seluruh bagian atau sebagian besar dari Qur’an, kemudian makin hari meningkatkan pemahaman akan makna-maknanya.

Sejak usia tujuh tahun, beliau Nabi sallallahu ‘alayhi wasallammerekomendasikan bahwa anak-anak harus membiasakan melakukan shalat dan pada usia sepuluh mereka harus diwajibkan untuk melakukannya secara teratur. Sepenuh-penuhnya jadwal meningkatkan keterampilan duniawi, anak harus paham bahwa sholat merupakan tiang agama, pelaksanaannya harus di awal waktu.

Anak-anak yang kreatif, inovatif dan percaya diri adalah anak-anak yang melihat kepercayaan diri yang tinggi dari orang tua mereka. Lagi-lagi, kita ngomong sampai berbusa pun, belum tentu tausiyah kita dicerna sang anak. Mereka ‘langsung mencerna’ sikap, akhlaq keseharian kita. Dan suatu hari nanti mereka mengerti bahwa anak-anak dan orang tua adalah sama-sama belajar.

Di tengah hiruk pikuknya ragam metode pendidikan anak, tarbiyyah yang tepat adalah bahwa anak-anak harus selalu mencintai Islam, cinta kepada Allah ta’ala dan Nabi-Nya (sallallahu ‘alayhi wasallam) dan bahwa mereka dapat mengembangkan rasa bangga menjadi Muslim dan kemauan untuk berjuang, sebab hidup merupakan jalan perjuangan.
Kita sebagai orang tua memiliki banyak khilaf dan sangat lemah, maka kita ajak mereka kepada ajaran rambu-rambu-Nya nan sempurna. Mereka kelak menyadari bahwa hidup dengan nilai-nilai islam adalah kebutuhan, dan kita harap ‘tak ada kebutuhan lain’ yang menjadi pelepas dahaga mereka, selain kebutuhan pada bimbingan Allah ta’ala, itu kebutuhan alami seluruh manusia. Wallahu’alam bisshowab.
(bidadari Azzam, @ Krakow, malam 11 okt’2011) Penulis adalah koordinator muslimah-Islamic Centre Krakow, Poland.

2 komentar:

Kak Zepe Lagu2anak.blogspot.com mengatakan...

Hai…perkenalkan nama saya kak zepe
Menarik sekali artikelnya…blognya juga keren
Saya juga punya blog yang isinya tentang semua hal yang berhubungan dengan dunia anak-anak ..
Ada lagu anak, tips parenting, pendidikan kreatif, dongeng anak….
Ada di http://lagu2anak.blogspot.com
Bila berkenan, mari bertukar link…
Thx..
Kak Zepe

mnsar mengatakan...

Lagi info mendidik anak @ mnsar blog "21 Kaedah Mendidik Anak Cemerlang"

Poskan Komentar